pada postingan perdana sebagai percobaan ini saya akan me-repost hasil tugas kuliah teman saya tentan takhrij hadits. adapun pengertian terkait takhrij haditsinsyaAllah akan kami susulkan pada postingan berikutnya.
KAJIAN TENTANG TAKHRIJ HADITS SUTRAH SHALAT
A.
Pendahuluan
Islam adalah
agama Ilahiyah. Umat muslim di seluruh penjuru dunia mendasarkan hukum pada
al-Qur’an dan as-sunnah (hadis). Al-Qur’an diturunkan dengan menyertakan
Muhammad saw sebagai seorang utusan serta menjelaskan isi al-Quran tersebut.[1]
Al-Qur’an adalah
kalamullah yang diturunkan melalui perantara Jibril kepada Muhammad saw untuk
dijadikan barometer muslim yang solutif[2].
Turunnya al-Quran menjadi penutup agama samawi, wahyu dan Nabi setelahnya.[3] Hadis
adalah segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi saw berupa perkataan, perbuatan,
taqrir atau sifat tertentu lainnya.[4]
Seiring
perkembangan zaman, masalah yang dihadapi kian bertubi, sementara itu Nabi saw
telah tiada, sehingga umat harus merujuk pada dua kitab (al-Qur’an dan
as-Sunnah). Dalam al-hadits ada hadis yang ditolak dan diterima dalam
sumber pengambilan hukumnya.[5]
Para ulama melakukan kajian mendalam ilmu hadis sebagai antisipasi salahnya
pengambilan hadis yang tidak jelas sumbernya.
Buah hasil
kajian tersebut melahirkan kitab-kitab karya yang terkodefikasi menjadi buku
metodologi penilitian terhadap suatu hadis, sehingga memudahkan dalam pentakhrijan
hadits. Menggunakan metode pentakhrijan, penulis mencoba
mengaplikasikan metode tersebut untuk menguji hadis sutrah shalat, sehingga didapati
kevaliditasan shahihnya. Besar harapan semoga karya tulis ini memberikan
manfaat bagi para pembaca terkhusus penulis sendiri.
B.
Takhrij Hadits
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid
Al Ahmar dari Ibnu 'Ajlan dari Zaid bin Aslam dari 'Abdurrahman bin Abu Sa'id
dari Bapaknya ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian shalat, hendaklah menghadap
ke sutrah dan mendekatinya. Jangan membiarkan seseorang melintas di depannya,
jika ada seseorang yang melintasinya hendaklah ia bunuh sebab dia adalah setan.
(HR. Ibnu
Majah )
Hadis tersebut
dapat dijumpai dalam kitab kutubut tis’ah kategori kitab sunnan Ibnu
Majah hadiss 954 bab iqamat as-shalat, serta hadis tersebut
dijadikan sebagai hadis fardi oleh penulis.
C.
I’tibar
Setelah
dilakukannya i’tibar, banyak ditemukan redaksi hadis yang setema dengan
hadis fardi diatas. Banyaknya hadis-hadis yang redaksinya setema dengan hadis
fardinya, maka penulis hanya mengambil beberapa hadis pendukung sebagai
efektifitas pentakhrijan.
Hadis riwayat Abu Daud dari
Ubaidillah
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ الْعَبْدِيُّ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ
مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِيهِ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَعَلْتَ بَيْنَ
يَدَيْكَ مِثْلَ مُؤَخِّرَةِ الرَّحْلِ فَلَا يَضُرُّكَ مَنْ مَرَّ بَيْنَ
يَدَيْكَ
Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir Al-'Abdi telah menceritakan kepada
kami Isra`il dari Simak dari Musa bin Thahah dari Ayahnya, Thahah bin
Ubaidillah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Apabila kamu memasang sutrah (pembatas) di depanmu seperti kayu di
belakang binatang kendaraan, maka tidak akan memudharatkanmu orang yang lewat
di depanmu"(HR. Abu Daud
no.587)
أَخْبَرَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ
الدُّورِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ قَالَ حَدَّثَنَا
حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ عَنْ سُتْرَةِ الْمُصَلِّي فَقَالَ مِثْلُ
مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ
Telah mengabarkan kepada kami Al 'Abbas bin Muhammad Abdullah-Duriy
dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid dia berkata;
telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih dari Abul Aswad dari 'Urwah
dari 'Aisyah Radliyallahu'anha, dia berkata, 'Rasulullah Shallallahu'alaihi
wasallam pernah ditanya saat perang Tabuk tentang sutrah (pembatas) bagi orang
yang sedang shalat, lalu beliau Shallallahu'alaihi wasallam menjawab, `Seperti
kayu yang dijadikan sandaran di belakang pelana'." (HR.
An Nasa’i 738)
Hadis
riwayat Muslim dari ‘Aisyah
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ أَخْبَرَنَا حَيْوَةُ عَنْ أَبِي
الْأَسْوَدِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ فِي غَزْوَةِ
تَبُوكَ عَنْ سُتْرَةِ الْمُصَلِّي فَقَالَ كَمُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair
telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid telah mengabarkan kepada kami
Haiwah dari Abu al-Aswad Muhammad bin Abdurrahman dari Urwah dari Aisyah ra
"Bahwa Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam ditanya pada saat perang
Tabuk tentang sutrah orang yang shalat, maka beliau menjawab, 'Ia bisa
berbentuk seperti kayu yang diletakkan di punggung hewan tunggangan'."
(HR. Muslim no. 772)
D.
Kritik Sanad Hadits
a.
Haikal al Ruwat
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
أَبِي سَعِيدٍ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
عَبْدِ الرَّحْمَنِ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
ابْنِ عَجْلَانَ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ
|
||
↨
|
←
|
حَدَّثَنَا
|
أَبُو كُرَيْبٍ
|
||
↨
|
←
|
حَدَّثَنَا
|
ابن ماجه
|
||
هيكال
1
|
||
1)
Abu Kuraib
Nama
Lengkap : Muhammad bin al 'Alaa' bin
Kuraib
Kalangan :
Tabi'ul Atba' (pengikut tabi’in) kalangan tua
Kuniyah : Abu Kuraib
Domisili : Kufah
Wafat : 248 H
Guru : Sulaiman bin Hayyan, Abu Bakar bin ‘Iyas bin Isma’il.
Murid :
Ibnu Majah
Komentar
para kritikus hadis
Abu
Hatim :
Shaduuq (orang yang jujur)
An
Nasa’i : La
ba’sa bih (tidak terdapat masalah)
Ibnu Hibban :
Disebutkan dalam ats tsiqaa (terpenuhi unsur ke’adilan dan dhabit)
Maslamah
bin Qasim : Kuufii Tsiqah (tercukupi
ketsiqahannya)
Ibnu
Hajar al 'Asqalani : Tsiqah Hafidz (sempurna
hafalannya)
2)
Abu Khalid al Ahmar
Nama Lengkap : Sulaiman bin Hayyan
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan
pertengahan
Kuniyah : Abu Khalid
Domisili : Kufah
Wafat : 189 H
Guru : Muhammad
bin 'Ajlan, Hatim bin Shagirah
Murid : Muhammad
bin Al 'Alaa' bin Kuraib, Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair
Komentar
para kritikus hadis
Yahya bin Ma'in : Tsiqah (sempurna)
Ibnu Madini : Tsiqah (sempurna)
Ibnu Sa'd : Tsiqah (sempurna)
Ibnu
Hibban : Disebutkan
dalam 'ats tsiqaat (terpenuhi unsur ke’adilan dan dhabit)
Abu Hatim :
Shaduq (orang yang jujur)
Ibnu Hajar al 'Asqalani : Shaduq
Yukhti (kejujurannya diperhitungkan)
3)
Ibnu ‘Ajlan
Nama Lengkap : Muhammad bin 'Ajlan
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan
pertengahan
Kuniyah : Abu 'Abdullah
Domisili : Madinah
Wafat : 148 H
Guru : Zaid
bin Aslam, Said bin Ubai Sa’id bin Kaisan
Murid : Sulaiman
bin Hayyan, Shafwan bin ‘Isa
Komentar para
kritikus hadis
Ahmad bin
Hambal : Tsiqah (sempurna)
Yahya bin Ma'in : Tsiqah (sempurna)
Ya'kub bin
Syu'bah : Tsiqah
(sempurna)
Abu Hatim :
Tsiqah (sempurna)
An Nasa'i : Tsiqah
(sempurna)
Al 'Ajli : Tsiqah (sempurna)
Ibnu Uyainah : Tsiqah (sempurna)
Ibnu Hajar al
'Asqalani : Shaduuq (orang yang
jujur)
4)
Zaid bin Aslam
Nama Lengkap : Zaid bin Aslam
Kalangan : Tabi'in kalangan
pertengahan
Kuniyah : Abu Usamah
Domisili : Madinah
Wafat : 136 H
Guru : Abdur
Rahman bin Abi Sa'id Sa'ad bin Malik bin Sinan, Aslam Maula ‘Umar.
Murid : Muhammad
bin ‘Ajlan, Usamah bin Zaid bin Aslam.
Komentar
para kritikus hadis
Ahmad bin Hambal : Tsiqah (sempurna)
Abu Zur'ah
Arrazy : Tsiqah (sempurna)
Abu Hatim Ar
Rozy : Tsiqah (sempurna)
Muhammad bin
Sa'd : Tsiqah (sempurna)
Ya'kub Ibnu
Syaibah : Tsiqah (sempurna)
An Nasa'i: : Tsiqah (sempurna)
Adz Dzahabi : Ahli Fiqih
5)
Abdur Rahman
Nama
Lengkap : Abdur Rahman bin Abi Sa'id
Sa'ad bin Malik bin Sinan
Kalangan :Tabi'in kalangan
pertengahan
Kuniyah : Abu Hafsh
Domisili : Madinah
Wafat : 112 H
Guru : Sa'ad
bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid.
Murid : Zaid
bin Aslam, Safwan bin Salim.
Komentar
para kritikus hadis
An Nasa'i : Tsiqah (sempurna)
Al 'Ajli : Tsiqah (sempurna)
Ibnu Hibban : Tsiqah (sempurna)
Ibnu Sa'd :
Laisa bi tsabat (bukan termasuk kalangan tsiqah)
6)
Abu Sa’id
Nama Lengkap : Sa'ad bin Malik bin Sinan bin 'Ubaid
Kalangan : Shahabat
Kuniyah : Abu Sa'id
Domisili : Madinah
Wafat : 74 H
Guru : ‘Abdullah bin ‘Abbas bin
‘Abdul Muthallib bin Hisyam, Qatadah bin Nu’man bin Zaid.
Murid : Abdur
Rahman bin Abi Sa'id Sa'ad bin Malik bin
Sinan, Shalih bin Dinar
Komentar
para kritikus hadis
Ibnu
Hajar al 'Asqalani : Sahabat
c.
Analisis Keadaan Sanad Hadits
Sanad
hadits di atas muttashil (bersambung) dan tidak terjadi inqitha’
(keterputusan) antara satu thabaqah
(tingkatan) generasi ke generasi lainnya, masing-masing di antara mereka
ada yang hidup semasa (mu’asarah)
dan bertemu langsung, serta terbukti memiliki hubungan guru dan murid antara
masing-masing Rawi.
Semua
Rawi yang terdapat dalam sanad hadits ini juga tidak memiliki ‘illat.
Seluruhnya memiliki kriteria maqbul (diterima). Sehingga secara keadaan sanad,
hadis ini terbebas dari keterputusan
(tidak munqathi’), dan tidak memiliki kecacatan (‘illat)
serta tidak bertentangan dengan jalur periwayatan yang lebih kuat.
2.
Kritik Sanad Hadits Riwayat Abu Daud
a.
Haikal al Ruwat
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
سِمَاكٍ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
إِسْرَائِيلُ
|
||
←
|
حَدَّثَنَا
|
|
مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ الْعَبْدِيُّ
|
||
↨
|
←
|
حَدَّثَنَا
|
ابو داود
|
b.
Penilitian Kualitias Para Rawi
1)
Muhammad Ibnu Katsir al ‘Abdiy
Nama Lengkap : Muhammad
bin Katsir
Kalangan : Tabi'ul
Atba' kalangan tua
Kuniyah : Abu
'Abdullah
Domisili :
Bashrah
Wafat : 223
H
Guru : Isra’il bin Yunus bin Abi Ishaq, Ja’far bin Sulaiman.
Murid : Muhammad bin Yahya bin ‘Abdullah bin Khalid
bin Faris bin Dzuwaib
Komentar para kritikus hadits
Yahya bin Ma'in :
Lam yakun bi tsiqah (belum tsiqah)
Abu Hatim :
Shaduuq (orang yang jujur)
Ibnu Hibban :
Disebutkan dalam 'ats tsiqaat (terpenuhi ke’adilan dan dhabit)
Ibnu Hajar al 'Asqalani : Tsiqah
(sempurna)
2)
Isra’il
Nama Lengkap : Isra'il
bin Yunus bin Abi Ishaq
Kalangan : Tabi'ut
Tabi'in kalangan tua
Kuniyah : Abu
Yusuf
Domisili :
Kufah
Wafat : 160
H
Guru : Simak
bin Harb bin Aus, Ibrahim bin Muhajir bin Jabir.
Murid : Muhammad bin Katsir, Ishaq
bin Manshur
Komentar para kritikus hadis
Ibnu Hibban :
Disebutkan dalam 'ats tsiqaat (terpenuhi ke’adilan dan dhabit)
Ibnu Hajar al 'Asqalani : Tsiqah
(sempurna)
3)
Simak
Nama Lengkap : Simak bin
Harb bin Aus
Kalangan : Tabi'in
kalangan biasa
Kuniyah : Abu al
Mughirah
Domisili : -
Wafat : 123
H
Guru : Musa
bin Thalhah bin 'Ubaidillah, Nu’man bin Basyir bin Sa’ad.
Murid : Isra'il bin Yunus
bin Abi Ishaq, Asbath bin Nashr
Komentar Para Kritikus Hadis
Yahya bin Ma'in :
Tsiqah (sempurna)
Abu Hatim Ar Rozy : Shaduuq
Tsiqah (sempurna serta jujur)
An Nasa'i :
Di haditsnya ada sesuatu
Ibnu Hibban :
Banyak salah
Adz Dzahabi :
Tsiqah (sempurna)
Adz Dzahabi :
Jelek hafalannya
4)
Musa bin Thalhah
Nama Lengkap : Musa bin
Thalhah bin 'Ubaidillah
Kalangan : Tabi'ut
Tabi'in kalangan biasa
Kuniyah : Abu 'Isa
Domisili :
Kufah
Wafat : 103
H
Guru : Thalhah bin ‘Ubaidillah
Murid : Simak bin Harb bin Aus
Komentar para kritikus hadis
Al 'Ajli :
Tsiqah (sempurna)
Ibnu Hajar al 'Asqalani : Tsiqah
Jalil (orang yang mulia serta sempurna)
Adz Dzahabi :
Tsiqah Waqur, (ahli ibadah serta sempurna)
5)
Thalhah bin 'Ubaidillah
Nama Lengkap : Thalhah
bin 'Ubaidillah bin 'Utsman
Kalangan :
Shahabat
Kuniyah : Abu
Muhammad
Domisili : Madinah
Wafat : 36
H
Guru : Muhammad saw
Murid : Musa
bin Thalhah bin ‘Ubaidillah, Malik bin Abu ‘Amir
Komentar para kritikus hadis
Ulama : Sahabat
c.
Analisis Keadaan Sanad Hadis
Sanad hadits
ini muttashil (bersambung) tanpa terjadi intiqha’ (keterputusan)
antara satu thabaqah (tingkatan)
generasi dengan generasi lainnya, masing-masing di antara mereka hidup semasa (mu’asharah)
dan bertemu secara langsung, serta terbukti memiliki hubungan guru dan murid
antara masing-masing rawi.
Semua rawi yang
terdapat dalam hadits tersebut dinilai maqbul oleh para ulama, kecuali Simak
bin Harb bin Aus yang hidup pada Tabi'in kalangan biasa, diantara ulama
yang mencacati beliau ialah an Nasa’i, adz Dzahabi dan Ibnu Hibban namun tidak
sampai pada derajat mudallas atau kadzab, sehingga meskipun hadis
ini marfu’ dari jalur sanadnya, namun tetap dinilai dhaif karena rawinya, menurut kaidah:
(الجرح مقدم علي التعديل ولو كان معدلون اكثر من الجر)
“Penilaian
cacat diprioritaskan meskipun yang menilai ‘adil lebih banyak dari yang
mencacati”
Kedhaifan
hadits tersebut akan terangkat pada tingkat hasan lighairihi dan maqbul
jika ada hadits yang lebih kuat/banyak periwayatan setema dengannya.
3.
Kritik Sanad Hadits Riwayat An Nasa’i
a.
Haikal al Ruwat
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
عَائِشَةَ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
عُرْوَةَ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
أَبِي الْأَسْوَدِ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ
|
||
↨
|
←
|
حَدَّثَنَا
|
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ
|
||
↨
|
←
|
حَدَّثَنَا
|
الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ
الدُّورِيُّ
|
||
↨
|
←
|
أَخْبَرَنَا
|
النساء
|
||
3
هيكال
|
||
b.
Penelitian Kualitas Para Rawi
1)
Abbas bin Muhammad ad Dauri
Nama Lengkap : ‘Abbas bin Muhammad bin Hatim bin Waqid
Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan
pertengahan
Kuniyah : Abu al Fadhlal
Domisili : Baghdad
Wafat : 271 H
Guru : ‘Abdullah
bin Yazid, ‘Abdullah bin Ghazwan
Murid : Imam
an Nasa’i dan Abu D
aud
Komentar
para kritikus hadis
Ibnu Abi Hatim : Shaduuq (orang yang
jujur)
Abu Hatim :
Shaduuq (orang yang jujur)
An
Nasa'i : Tsiqah
(sempurna)
2)
Abdullah bin Yazid
Nama Lengkap : Abdullah bin Yazid
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan
biasa
Kuniyah : Abu 'Abdur Rahman
Domisili : Marur Rawdz
Wafat : 213 H
Guru : Haywah bin Suraih bin Shafwan, Musa bin ‘Ali bin
Rabbah
Murid : ‘Abbas bin Muhammad bin Hatim bin Waqid, Nashir bin al
Farj
Komentar
para kritikus hadis
Abu Hatim : Shaduuq
(orang yang jujur)
An Nasa'i : Tsiqah (sempurna)
Ibnu
Hibban : Disebutkan
dalam 'ats tsiqaat (terpenuhi ke’adilan dan dhabit)
Ibnu Hajar : Tsiqah (sempurna)
Adz
Dzahabi : Tsiqah (sempurna)
3)
Haywah bin Suraih
Nama Lengkap : Haywah bin Suraih bin Shafwan
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan
tua
Kuniyah : Abu Zur'ah
Domisili : Maru
Wafat : 158 H
Guru : Muhammad bin 'Abdur Rahman bin Naufal bin al Aswad,
Walid bin Abu al Walid Utsman
Murid : ‘Abdullah
bin Yazid, ‘Abdullah bin Yahya
Komentar
para kritikus hadis
Ahmad bin
Hambal : Tsiqah Tsiqah (sangat
sempurna)
Yahya bin Ma'in : Tsiqah (sempurna)
Al 'Ajli : Mentsiqahkannya
Maslamah bin
Qasim : Mentsiqahkannya
Ibnu
Hibban : Disebutkan
dalam 'ats tsiqaat (terpenuhi ke’adilan dan dhabit)
Ibnu
Hajar al 'Asqalani : Tsiqah Tsabat (sangat
sempurna)
4)
Abu al Aswad
Nama
Lengkap : Muhammad bin 'Abdur Rahman
bin Naufal bin al Aswad
Kalangan : Tabi'ut Tabi'in kalangan
tua
Kuniyah : Abu al Aswad
Domisili : Madinah
Wafat : 131 H
Guru : Urwah bin az Zubair bin al 'Awwam bin Khuwailid bin Asad bin
'Abdul 'Izzi bin Qushai, Sulaiman bin Yassar.
Murid : Haywah
bin Suraih bin Shafwan, ‘Ubaidillah
bin Abu Ja’far.
Komentar
para kritikus hadis
Abu Hatim :
Tsiqah (sempurna)
An Nasa'i : Tsiqah (sempurna)
Ibnu
Hibban : Disebutkan
dalam 'ats tsiqaat (terpenuhi ke’adilan dan dhabit)
Ibnu
Hajar al 'Asqalani : Tsiqah (sempurna)
5)
‘Urwah
Nama
Lengkap : ‘Urwah
bin az Zubair bin al 'Awwam bin Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Izzi bin Qushai
Kalangan : Tabi'in kalangan
pertengahan
Kuniyah : Abu 'Abdullah
Domisili : Madinah
Wafat : 93 H
Guru : Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq, Asma binti
Abu Bakar ash Shiddiq.
Murid : Muhammad
bin 'Abdur Rahman bin Naufal bin al Aswad, Tamim bin Salamah
Komentar
para kritikus hadis
Al 'Ajli : Tsiqah (sempurna)
Ibnu Hajar : Tsiqah (sempurna)
Ibnu
Hibban : Disebutkan
dalam 'Ats Tsiqat' (terpenuhi ke’adilan dan dhabit)
6)
‘Aisyah
Nama Lengkap : Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq
Kalangan : Sahabat
Kuniyah : Ummu 'Abdullah
Domisili : Madinah
Wafat : 58 H
Guru : Muhammad
saw
Murid : Urwah
bin az Zubair bin al 'Awwam bin Khuwailid bin Asad bin 'Abdul 'Izzi bin Qushai, ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud.
Komentar
para kritikus hadis
Ulama : Sahabat
c.
Analisis Keadaan dan Kualitas Sanad
Sanad hadits di
atas muttashil (bersambung) dan tidak terjadi inqitha’
(keterputusan) antara satu thabaqah
(tingkatan) generasi ke generasi lainnya, masing-masing di antara mereka
ada yang hidup semasa (mu’asarah)
dan bertemu langsung, serta terbukti memiliki hubungan guru dan murid antara
masing-masing rawi.
rawi yang terdapat dalam sanad hadis ini juga tidak memiliki ‘illat.
Seluruhnya memiliki kriteria maqbul, sehingga secara keadaan sanad,
hadis ini terbebas dari keterputusan
(tidak munqathi’), dan tidak memiliki kecacatan (‘illat)
serta tidak bertentangan dengan jalur periwayatan yang lebih kuat.
4.
Kritik Sanad Hadits Riwayat Muslim
a.
Haikal al Ruwat
رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
|
||
↨
|
←
|
سُئِلَ
|
عَائِشَةَ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
عُرْوَةَ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
أَبِي
الْأَسْوَدِ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
حَيْوَةُ
|
||
↨
|
←
|
عَنْ
|
عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ
|
||
↨
|
←
|
حَدَّثَنَا
|
مُحَمَّدُ
بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ
|
||
↨
|
←
|
أَخْبَرَنَا
|
مسلم
|
||
هيكال 4
|
||
b.
Penelitian Kualitas Para Rawi
1)
‘Abdullah bin Yazid
Ibid
2)
Haywah
Ibid
3)
Abu al Aswad
Ibid
4)
‘Urwah
Ibid
5)
‘Aisyah
Ibid
6)
Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair
Nama Lengkap : Muhammad bin 'Abdullah bin Numair
Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan
tua
Kuniyah : Abu 'Abdur Rahman
Domisili : Kufah
Wafat : 234 H
Guru : ‘Abdullah
bin Yazid, ‘Abdullah bin Numair
Murid : Imam
Muslim
Komentar
para kritikus hadis
Al 'Ajli : Tsiqah (sempurna)
Abu Hatim :
Tsiqah (sempurna)
An Nasa'i : Tsiqah ma`mun (terjaga
serta sempurna)
Ibnu
Hibban : (Disebutkan
dalam 'ats tsiqaat (terpenuhi ke’adilan dan dhabit)
Ibnu Hajar al
'Asqalani : Tsiqah Hafidz (sempurna
hafalannya)
Adz
Dzahabi : Hafizh (hafal)
c.
Analisa Keadaan Sanad Hadis
Sanad hadis
riwayat Muslim ini marfu’ dan tidak ditemukan kecacatan (‘illat) karena
rawi muttashil (bersambung) dan tidak terjadi keterputusan sanad antar thabaqah.
Hal tersebut dikarenakan para rawi hidup semasa dan terjadi hubungan guru
murid, sementara tahammul wal ada’ dalam sanad hadis menggunakan sighah
ada’ (ungkapan pencapaian)
bersifat hissy (inderawi) atau iltiqa’ (bertemu langsung) berupa
“سُئِلَ”.
E.
Kesimpulan
a.
Haikal al Ruwat
(Skema Gabungan)
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
|
||||||
↨
|
↨
|
↨
|
||||
أَبِي سَعِيدٍ
|
طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ
|
عَائِشَةَ
|
||||
↨
|
↨
|
↨
|
||||
عَبْدِ الرَّحْمَنِ
|
مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ
|
عُرْوَةَ
|
||||
↨
|
↨
|
↨
|
||||
زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ
|
سِمَاكٍ
|
أَبِي الْأَسْوَدِ
|
||||
↨
|
↨
|
↨
|
||||
ابْنِ عَجْلَانَ
|
إِسْرَائِيلُ
|
حَيْوَةُ
|
||||
↨
|
↨
|
↨
|
||||
أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ
|
مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ الْعَبْدِيُّ
|
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ
|
||||
↨
|
↨
|
↨ ↨
|
||||
أَبُو كُرَيْبٍ
|
ابو داود
|
الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ
|
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ
|
|||
↨
|
↨
|
↨
|
||||
ابن ماجه
|
النساء
|
مسلم
|
||||
هيكال 5
|
||||||
F.
Analisis Kuantitas Hadis
Secara
kuantitas jalur periwayatan hadis, hadis yang penulis teliti ini termasuk
kategori hadis Masyhur. Bermakna bahwa jumlah rawi dalam suatu hadis
yang diriwayatkan mencapai tiga atau lebih dalam tiap-tiap tingkatan sanadnya[6].
G.
Analisa Validitas Hadis
Jika dilihat
dari segi sanad, hadis tersebut memiliki sanad yang bersambung sejak sahabat
hingga mukharrij-nya yaitu Imam al Muslim. Sementara dari segi kualitas
perawinya, para kritikus hadis memberikan ragam komentar. Dari
komentar-komentar mereka, semuanya memberikan penilaian positif tentang keadaan
keadaan mereka, kecuali Simak bin Harb bin Aus yang mendapat kritikan dari Ibnu
Hibban, adz Dzahabi dan an Nasa’i. Sangkaan tersebut tidak serta merta menghukuminya sebagai hadis dhaif
bahkan hadis palsu, karena kedhaifan hadis yang disebabkan satu rawi
dapat terangkat dengan hadis lain menjadi hasan lighairihi. Tinjauan
dari banyaknya jalur lain yang meriwayatkan hadis ini, memperkuat hadis riwayat
Imam Muslim dengan adanya muttabi’ qashirah dari jalur periwayatan Imam
Muslim dan an Nasa’i..
H.
Kesimpulan
1. Kualitas Hadis
dan Kehujjahannya
Setelah menganalisa terhadap hadis di atas diketahui hadis tersebut
shahih dan dapat diamalkan, meski ada satu hadits yang terdapat kritikan dalam
rawinya, maka hadis tersebut terangkat oleh banyaknya hadis yang shahih lainnya
dengan terpenuhi kriteria shahih, yaitu : Ittishal al sanad, ‘adalatul
ruwat, dhabtu al ruwat, ghairu al Syaz dan Ghairu al ‘illah.
2.
Pemahaman Terhadap Matan Hadis (Fiqh Hadits)
Dalam matan hadis di atas, Rasullullah memerintahkan untuk membuat
pembatas untuk shalat, Nabi saw mengisyaratkan dengan kayu atau semisalnya,
bahkan dalam matan Ibnu Majah disebutkan kehalalan untuk membunuh orang yang
melintasi pembatas tersebut.
Dalam prakteknya, keharusan sutrah bukanlah dengan kayu.
Rasullullah menyebutkan; “atau dengan selainnya”, sehingga diketahui bahwa sutrah
dapat berupa apapun yang dapat mencegah orang lain melewati jangkauan tempat
sujud kita. Wallahu a’lam
[1] Muhammad Ali as-Shobuni, at-Tibyan Fi Ulumil Qur’an, dar-islamiyah
cetakan pertama, hal 31
[2] ibid
[3] ibid
[4] Mahmud at Tahan, Taisir Musthalah al Hadits, Daar al Fikr, hal 14
[5] Mahmud at Tahan, Taisir Musthalah al Hadits, Daar al Fikr, hal 9
[6] Mahmud at Tahan, Taisir Musthalah al Hadits, Daar al Fikr, hal 22
0 komentar:
Posting Komentar