![]() |
| http://fantascene.blogspot.co.id/2013/06/arti-dan-nama-bayi-laki-laki.html |
Entah hari apa waktu
itu aku lupa, tapi selalu ada yang spesial dengan kegiatan makan malam kami. Makan dengan hidangan citarasa khas PUTM lowanu diiringi alunan musik djaman
doeloe dari air hujan yang menghantam atap dapur kami, menambah suasana
waktu itu terasa semakin syahdu. Dibalik kenikmatan yang terkenang itu,
ada sebuah kejadian yang membuat saya sadar akan suatu hal penting dalam
kehidupan bermanusia. Kejadian itu berawal ketika saya mencuci perkakas makan
bersama teman satu angkatan, sebut saja Victor ( tenang.. dia bukan Victor
Kampret yang sempat viral dimedia nasional akibat ulahnya dan dia (Victor
Kampret) juga sempat dibicarakan pak Busyra Muqaddas saat seminar kebangsaan diKaliurang)
dia (Victor) adalah anak asli berkebangsaan Sragentina yang merantau ke-jogja
hanya untuk memenuhi dahaganya akan ilmu agama. Perbincangan kami dimulai saat
aku mendengar sayup-sayup suara parau yang keluar dari mulutnya menyanyikan
sebuah lagu khas bumi jawa.
Lagune
sopo tor, kok aku lagi krungu iki…?
Tanyaku kepadanya (mohon maaf, kami tidak menyediakan layanan translate bahasa. jika anda
merasa sulit dalam memahami bahasa ini, bisa anda tanyakan pada orang yang
lebih faham).
“Iku
lagune Didi Kempot” ungkap victor diiringi senyum minimalis yang dapat
mengalihkan dunia para gadis. entah kenapa, sampai saat ini aku belum ingat
seperti apa lirik lagunya, mungkin karena suara yang kelewatan merdunya itu menyebabkan
aku gagal focus.
Mendengar
nama penyanyi itu ada suatu hal menarik yang ingin aku tanyakan, “Tor, ngopo kok jeneng penyanyine Didi Kempot…? ente ngerti ora...?”. Dengan sangat sigap dia langsung menimpali “yo embuh,,!!”
“Nahh,dadi ngene tor…” aku mulai memaparkan kepadanya
kenapa namanya Didi Kempot, disitulah aku mulai menggunakan pendekatan cocokologi
( cocokologi berasal dari dua kata yaitu cocok dan logos.
cocok artinya selaras, sama, dan sesuai, sedangkan logos artinya
ilmu. Jadi cocokologi secara istilah adalah ilmu yang digunakan untuk
menyelaraskan/ menyesuaikan makna) ilmu ini dikembangkan oleh salah satu madzhab
yang popular ditanah jawa yaitu madzhab al-Ngawuriy (next time
insyaAllah akan terungkap siapa itu madzhab al-Ngawuriy).
“Kok di jenengi Didi Kempot kui karang ono dua kemungkinan tor. Kemungkinan
pertama karang beliau ora tembem, nek tembem mesti jenenge DIDI TEMBEM udu Didi
Kempot, kemungkinan kedua, karang beliau seorang penyanyi laki-laki, dadi Didi
Kempot, lha.. nek wedok mesti DODI KEMPIT”. Diiringi wajah sangat terpaksa, victor pun menerima argumentasi tersebut.
Dari
peristiwa itu lah aku mulai berfikir tentang pentingnya sebuah nama. Bukan hanya
untuk saya pribadi tapi untuk semua orang pada umumnya. Dibalik
sebuah nama pasti ada doa dan harapan orang tua terhadap anaknya kelak.
Rasulullah saw pun menganjurkan kita agar memberi nama yang baik sekaligus
dapat mendatangkan keridhaan Allah, seperti nama Abdullah dan Abdurrahman.
Tapi
akhir-akhir ini, tak jarang people jaman now yang memberikan nama
anaknya dengan nama yang agak nyeleneh seperti nama Pajero Sport, tuhan,
iblis dan lain sebagainya. Secara maksud dan tujuan dari orang tua mungkin ada
suatu harapan yang baik, akan tetapi itu belum tentu bagus bagi si anak yang
mengemban nama itu. Bahkan nama-nama yang nyleneh itu bisa menjadikan
beban bagi si anak, karena ia sering dibully dan lain sebagainya. Oleh
karena itu penting bagi para calon ayah dan ibu untuk mempersiapkan nama yang
baik bagi anaknya, nama yang mendatangkan keridhaan Allah dan menjauhkan dari
kemungkinan-kemungkinan buruk bagi si Anak kelak.

0 komentar:
Posting Komentar